Pangkal Pinang - Plt. Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dora Wardani, mendorong penguatan budaya inovasi di lingkungan pemerintahan daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang adaptif, kompetitif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Dorongan tersebut disampaikannya sebagai keynote speech pada Webinar Seri 8 bertema “Membangun Budaya Inovasi Daerah: Sinergi Kebijakan Pusat dan Daerah Menuju Pemerintahan yang Adaptif, Kompetitif, dan Berdampak", Rabu (12/8/2016).

Menurut Dora, perubahan lingkungan strategis, perkembangan teknologi, dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik menuntut pemerintah untuk terus melakukan pembaruan.

“Kita tidak sedang berbicara hanya tentang inovasi, kita sedang berbicara tentang bagaimana pemerintah harus berubah dan melakukan berbagai pembaruan,” ujarnya.

Webinar Seri 8 diselenggarakan BKPSDMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan melibatkan unsur Kementerian Dalam Negeri, khususnya Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri, serta Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya sinergi kebijakan pusat dan daerah dalam membangun pemerintahan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Dora mengatakan, pemerintah daerah tidak dapat berjalan sendiri dalam membangun inovasi karena dibutuhkan keterhubungan antara kebijakan pusat, implementasi daerah, dan peran ASN sebagai penggerak perubahan.

“Pusat memberikan arah, Daerah menerjemahkan, ASN mengimplementasikan, dan masyarakat merasakan dampaknya,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, setidaknya terdapat tiga aspek penting yang harus menjadi perhatian dalam membangun budaya inovasi, yaitu adaptif, kompetitif, dan berdampak. Pemerintah daerah harus mampu membaca perubahan dan meresponsnya dengan cepat, sementara daya saing daerah tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusia, pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, serta kemampuan menciptakan solusi.

“Inovasi jangan berhenti sebagai ide. Jangan berhenti sebagai dokumen. Jangan berhenti sebagai perlombaan. Inovasi harus menghasilkan perubahan dan masyarakat harus merasakan manfaatnya,” tegasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Dora menilai diperlukan perubahan budaya organisasi yang memberikan ruang bagi ASN untuk menyampaikan gagasan, berani mencoba, terbuka terhadap perubahan, dan menjadikan kegagalan sebagai bahan pembelajaran. Menurutnya, penguatan budaya inovasi harus berjalan beriringan dengan pengembangan kompetensi ASN.

“Kita tidak cukup hanya membangun ASN yang kompeten secara teknis, kita juga membutuhkan ASN yang mau belajar, mau berubah, mau berkolaborasi, mau mencoba, dan berani menciptakan solusi,” ujarnya.

Dalam membangun inovasi, Dora juga mengajak ASN mengubah cara pandang dengan tidak memulai dari pertanyaan mengenai inovasi apa yang hendak dibuat, melainkan dari masalah apa yang ingin diselesaikan. Inovasi yang baik selalu berangkat dari persoalan, kemudian dilanjutkan dengan pencarian solusi, pengembangan, dan pengukuran manfaatnya.

“Ketika kita menemukan masalah, kita mencari solusi. Ketika solusi tersebut memberikan hasil yang lebih baik, kita kembangkan dan ketika manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, itulah inovasi yang memiliki dampak,” jelasnya.

Bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kebutuhan terhadap inovasi memiliki relevansi tersendiri karena karakteristik wilayah kepulauan menghadirkan tantangan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, di tengah potensi ekonomi, pariwisata, sumber daya alam, UMKM, dan potensi masyarakat yang beragam.

Kondisi tersebut harus dijawab dengan inovasi yang lahir dari kebutuhan daerah, antara lain melalui pemanfaatan teknologi untuk mendekatkan pelayanan, digitalisasi untuk mempercepat proses pemerintahan, pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan, serta kolaborasi antarperangkat daerah. 

Dirinya menegaskan bahwa budaya inovasi tidak dapat dibangun secara instan, melainkan membutuhkan proses yang konsisten melalui keteladanan pimpinan, organisasi yang memberikan ruang, serta ASN yang memiliki kompetensi dan mindset inovatif. Seluruh proses tersebut harus bermuara pada peningkatan pelayanan dan manfaat bagi masyarakat.

“Mari kita bangun sebuah ekosistem pemerintahan di mana setiap ASN memiliki keberanian untuk bertanya: Apa yang bisa saya perbaiki hari ini, karena perubahan besar dapat dimulai dari satu gagasan sederhana yang benar-benar dilaksanakan," ajaknya.

Melalui Webinar Seri 8, Dora berharap peserta tidak hanya memperoleh tambahan wawasan, tetapi juga membawa hasil pembelajaran ke lingkungan kerja masing-masing dalam bentuk ide, perbaikan, kolaborasi, dan langkah nyata. Keberhasilan inovasi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah inovasi yang dihasilkan, tetapi oleh kemampuan inovasi tersebut menyelesaikan persoalan, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Keberhasilan inovasi bukan diukur dari seberapa banyak inovasi yang kita ciptakan, tetapi dari seberapa banyak masalah yang berhasil kita selesaikan, seberapa baik pelayanan yang kita berikan, dan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

Karena itu, Dora mengajak seluruh ASN dan pemangku kepentingan menjadikan inovasi sebagai budaya kerja dan kolaborasi sebagai kekuatan dalam menjalankan pemerintahan, serta menekankan pentingnya menempatkan ASN sebagai penggerak perubahan, bukan sekadar pelaksana rutinitas.

“Mari kita jadikan inovasi sebagai budaya kerja, bukan sekadar program. Mari kita jadikan kolaborasi sebagai kekuatan, bukan sekadar slogan. Dan mari kita jadikan ASN sebagai penggerak perubahan, bukan hanya pelaksana rutinitas,” tegasnya.

Terakhir, dirinya berharap sinergi pemerintah pusat dan daerah, dukungan ASN, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dapat mendorong terwujudnya pemerintahan daerah yang semakin adaptif, kompetitif, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat. Webinar Seri 8 kemudian secara resmi dibuka dengan harapan kegiatan tersebut menjadi pemantik lahirnya berbagai inovasi yang dapat diimplementasikan di lingkungan kerja masing-masing.

“Dari kebijakan menuju aksi, dari ide menuju solusi, dari inovasi menuju dampak,” pungkas Dora.